Mawar Merah Darah





Cerita Oleh: Srea
Gambar : google
Malam ini, aku akan menjadi bagian dari orang-orang yang bahagia (lagi). Sepasang kekasih sedang merencanakan candle light dinner di sebuah cafĂ© dengan design interior klasik, disertai dengan alunan musik akustik yang romantis dan makanan juga minuman yang enak, secangkir kopi dengan toping sebuah kalimat yang semua wanita menyukainya; “Will You Marry Me?”.
            Wanita yang bernama Nada itu terdiam dan tersenyum, bibirnya tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Sementara Zian masih sabar menunggu jawaban, menggenggam tangannya sendiri yang mulai berkeringat. Dan lagu akustik senantiasa mengiringi suasana itu dengan begitu lembut. Juga angin yang berhembus dari luar jendela dekat meja mereka, ikut merasakan aura tegang, berhembus begitu pelan membuat lilin meliuk-liuk, malu.

“Kalau kamu butuh waktu untuk menjaw…” Kalimat Zian terpotong.
“Ya.”
“Apa?”
“Ya, aku mau.”
“Sungguh?”
Nada mengangguk, sementara Zian tak bisa menahan senyumnya, gerakan tubuhnya yang melemas, lega. Betapapun itu jawaban yang dia harapkan, tentu saja itu terasa terlalu cepat. Zian berpikir bahwa Nada akan menunda jawabannya atau justru menolaknya, dia sudah menyiapkan mentalnya untuk itu. Bahkan dia tidak menyiapkan mental untuk jawaban “ya” dari Nada, mantan bosnya sendiri.
Zian yang dulu karyawan Nada yang terpaksa keluar perusahaan karena ketahuan memiliki hubungan dengan atasannya adalah salah satu resiko yang harus diterima Zian. Perusahaan berbasis komunikasi ini memang menetapkan aturan tidak boleh ada yang memiliki hubungan sesama karyawan, apalagi ini atasan dan bawahan. Tujuannya adalah agar mereka dapat bekerja secara profesional.
Jika banyak yang bilang bahwa seseorang akan bekerja keras untuk mendapatkan pekerjaan demi mendapatkan sang kekasih, Zian malah rela kehilangan pekerjaannya demi keselamatan hubungan mereka. Setelah berdiskusi, posisi Nada dan Zian memang rumit kala itu, mereka harus memilih siapa yang harus resign dari perusahaan itu agar mereka masih bisa memiliki hubungan spesial. Akhirnya, Zian mengalah untuk keluar, karena berpikir bahwa posisi Nada sudah bagus disana, sementara dia bisa mencari pekerjaan lain. Biarlah dia yang susah mencari pekerjaan, melamar sana-sini, biarlah dia saja.  
“Makasih, Sayang,” kata Zian.
Nada mengangguk. Dia ingin sekali dipeluk, tetapi Zian tidak menunjukan tanda-tanda akan memeluk, tubuhnya seperti basah oleh keringat yang tembus ke kemejanya. Nada tersenyum melihat tingkah Zian yang benar-benar salah tingkah.
Tak lama setelah itu pelayan datang untuk memberikan makanan yang sudah dipesan sebelumnya, serta memberikan dua tangkai bunga kepada Nada.
“Lagi?” tanya Nada.
“Ya. Setangkai bunga pertama untuk kuungkapkan bahwa aku cinta kamu. Dua lagi untuk kuungkapkan bahwa aku cinta kamu sekarang dan nanti.” Jelas Zian, sedikit gugup tapi kalimatnya sempurna terdengar oleh Nada yang kini sedikit berkaca-kaca, terharu.
“Selamat ya, Mbak, Mas. Juga selamat menikmati makan malamnya,” kata pelayan kafe itu. Seperti merasakan aura bahagia dari ekspresi pelanggannya itu.
“Terima kasih juga, Mbak. Terima kasih, Sayang,” kata Nada, suaranya tertekan, seperti ingin berteriak. Terlalu bahagia. 
Zian memberikan sehelai tisu. “Sama-sama, Sayang.” Dan pelayan itu lekas meninggalkan mereka dengan senyum ramah.
Di bawah langit bertabur bintang, aku begitu bahagia telah menjadi bagian dari mereka. Aku benar-benar melihat bagaimana ekspresi mereka saling menatap, tersenyum dan berbicara. Tak lama setelah selesai makan, Zian bangkit, duduk menghadap Nada dan memberikan cincin lamaran itu, memasukkannya pada jari manis Nada. Mereka berpelukan. Musik akustik semakin romantis terdengar. Lilin di sebelahku meliuk-liuk riang, dan aku terpaku dengan kejadian ini, cemburu sekaligus ikut bahagia.
Setelah selesai makan malam itu, mereka pulang dengan menggunakan mobil Zian. Di sepanjang perjalanan menuju parkiran, setiap orang yang berpapasan dengan mereka memberikan setangkai bunga mawar merah pada Nada, tentu saja itu dari Zian, semuanya sudah di setting sedemikian rupa, bahkan jika jawabannya ‘ditunda’ atau ‘ditolak’, Zian memang akan memberikan bunga-bunga itu pada Nada, sebagai tanda keseriusan dan ketulusan.
Nada sampai tak bisa memegang bunga mawar demi bunga mawar yang dia terima sepanjang perjalanan menuju parkiran, Zian tersenyum jahil, bahkan tak membantu untuk membawanya. ‘
“Sayang, apa-apaan ini? Banyak bangeeet, tanganku udah gak muat nih,” pekik Nada. Antara senang dan kesal karena Zian hanya tertawa. “Awas ya kamu. Ini sih bukan romantis, tapi jahil.”
“Hahaha.”
Akhirnya mereka tiba di depan mobil, Zian membukakan pintu dan lagi-lagi Nada terkejut karena di dalam mobil sudah ada bunga mawar merah lainnya yang siap menyambut kedatangannya.
“Sayang…” Nada terpukau. Kembali berkaca-kaca.
“Sini kubantu.” Zian membantu membawakan bunga mawar merah di pelukan Nada. Memasukan bunga-bunga tadi di jok belakang.
“Sayang,” kata Zian dengan memegang pundak Nada dihadapannya. “Semoga kamu suka ya, maaf aku gak pernah kasih bunga mawar merah selama kita dekat, aku tahu kamu sangat suka bunga itu, karena aku hanya ingin kasih bunga itu ketika waktunya tepat dan sakral seperti malam ini.” Zian mengusap air mata Nada, lalu mereka berpelukan. Nada sangat senang sampai tak bisa berkata-kata hanya bisa berkaca-kaca dan menangis bahagia.
Nada memang sempat berpikir bahwa Zian bukanlah orang yang romantis, dia sudah sering memberikan kode bahwa dia sangat menyukai bunga mawar merah tetapi Zian tak pernah memberikannya untuknya.
Tetapi lihatlah malam ini begitu banyak tangkai bunga mawar merah menjadi saksi kebersamaan mereka, bahkan taburan bunga di dalam mobil pun ikut menyeruak bahagia.
“Bunganya banyak banget, Sayang. Aku gak tahu kamarku muat untuk menyimpannya atau tidak.”
“Hahaha. Berlebihan deh.”
“Beneraaan.”
“Hahaha.”
“Ada berapa tangkai sih semuanya?”
“108?”
“Hmm. Oke, kenapa 108?”
“Karena itu tanda bahwa aku ingin menikahimu.”
“Teori ngarang.”
“Beneraaaan.”
“Hahaha.” Mereka tertawa bersama.
“Nanti bisa kamu pakai untuk mandi.”
Nada mengangguk.
Mereka saling menatap, tersenyum. Ah, begitu bahagianya mereka malam itu. Aku begitu senang menyaksikannya. Walaupun pemandangan ini sudah tak asing bagiku, karena kehadiranku sudah menjadi lambang cinta. Walau kadang-kadang, aku dipetik kala sedang bercumbu dengan kumbang yang sedang menghisap maduku. Tetapi aku tak sedih dipetik ketika itu, karena kutahu bahwa aku akan berakhir di tangan orang-orang yang sedang dimabuk asmara.
Namun, malam ini, kebahagiaan itu seketika sirna. Kala mobil yang dikendarai Zian dan Nada mengalami kecelakaan, mereka menabrak sepeda motor yang sedang melintas lampu merah. Entah salah siapa, motor yang melintas itu mungkin salah karena sudah melanggar aturan lalu lintas dan merasa aman-aman saja karena sudah tengah malam. Tetapi juga mungkin salah mereka berdua karena dua insan yang sedang dimabuk asmara ini tak terlalu fokus pada jalan.
Kejadian tragis ini berakhir dengan kematian Zian. Nada tak henti-hentinya menyesali kejadian ini. Hingga 108 tangkai bunga mawar merah itu tidak berakhir di kamar mandinya, tetapi berakhir di atas gundukan tanah kuburan kekasihnya. Sangat menyesakkan dadanya dan ini menyebabkan dirinya sangat membenciku; bunga mawar merah.
Sebegitu cinta Nada padaku dulu, namun kini sebegitu bencinya dia padaku. Kini, aku tahu, aku tak selalu berakhir di tangan-tangan bahagia, tetapi juga berakhir di tangan-tangan terluka, bisa karena duriku, bisa karena kelopakku yang berwarna darah. [ ]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar