ROSVATI PART 3: Yang Ditinggal Pergi



“Sakti, anak Mak, jangan kau lupakan solat. Berdoalah untuk kau dan untuk Mak, dengan begitu meski kita terpisah jauh, doa-doa kita akan bertemu di langit dan saling jadi penguat hati. Jadilah anak yang tangguh, kuat dan tegar seperti ksatria, seperti namamu. Dan jika Tuhan masih berbaik hati pada orang tak berdaya seperti kita, percayalah, kita akan bertemu lagi. Carilah Mak jika kau sudah merasa siap.” Ros membisikkan pesan terakhirnya di telinga Sakti, suaranya bercampur aduk dengan isak tangis.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sakti. Bibirnya masih menempel rapat di punggung tangan kanan Ros yang kini basah oleh air mata.

“Kau masih ingat doa sebelum tidur? Ucapkanlah, dan kembalilah tidur.”

Perlahan-lahan Sakti mengangkat wajahnya, memandang Ibu dan adik perempuannya untuk terakhir kali sampai akhirnya ia sedikit demi sedikit mundur lalu kembali tidur. Terbaring tenang di atas kasur.

Dengan sisa tenaga yang masih tersimpan dalam badannya, Ros kemudian berlari keluar setelah sebelumnya menyambar buntalan kain berisi bekalnya melarikan diri. Ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Tidak bahkan untuk melihat Sakti yang ternyata diam-diam melihat dari sudut jendela. Ros terus berlari sampai akhirnya menghilang di balik rimbun pepohonan.
***

Perkebunan Teh Cimeri digegerkan oleh hilangnya seorang wanita bersama bayinya yang baru berumur sepuluh bulan. Wanita itu dikabarkan kabur dengan membawa perhiasan berupa kalung dan gelang emas seberat sepuluh gram yang merupakan warisan dari ibu mertuanya. Begitulah berita yang diceritakan oleh Rukmana, suaminya.

Ros pergi meninggalkan seorang anak laki-laki yang sebulan lagi akan berumur genap enam tahun. Hujatan orang-orang sekampung tak henti-hentinya mengalir ditujukan untuk wanita itu. Ia dicap sebagai wanita maling tak berperasaan.

Ketika orang-orang bertanya kepada orang tuanya tentang kemana perginya Ros, bapak Ros hanya bisa berteriak-teriak ikut mengutuk anak perempuannya itu. Tak kuasa ia menanggung malu atas aib yang telah diperbuat oleh anaknya. Sedangkan ibu Ros mungkin hanya bisa menangis dan ikut mengutuk dari balik tanah kuburan. Ia telah lebih dulu meninggal karena serangan jantung ketika Ros dituduh membakar rumah wanita simpanan Rukmana—yang kini telah menjadi isterinya—dan disangka gila.

Meski demikian, setidaknya dari tiga ratus lima puluhan orang penduduk Cimeri masih ada satu orang yang tak goyah rasa percayanya pada Ros: Sakti.

“Katakan! Kemana ibumu pergi?”, Rukmana terus menanyai Sakti yang juga terus tutup mulut.

“Katakan! Kemana wanita sialan itu membawa pergi emas-emasku?”

“Mengakulah jika kau ingin selamat!” ancam Rukmana.

Walaupun Rukmana berkata seperti itu, Sakti tahu betul bahwa yang dibawa ibunya melarikan diri hanyalah beberapa potong baju untuknya sendiri dan anak perempuannya. Tak lebih dari itu. Ibunya tak akan sudi membawa sesuatu yang bukan miliknya, apalagi itu milik Rukmana yang dia warisi dari ibunya. Najis. Ibunya akan memilih mati kelaparan di jalan daripada makan dari uang haram hasil menjual barang curian.

Tapi Sakti juga mengerti betul, Rukmana tak akan percaya dengan ucapannya. Maka ia lebih memilih diam hingga akhirnya Rukmana menguncinya dalam gudang di dapur. Rukmana mengancam tak akan mengeluarkannya atau memberinya makan sebelum Sakti memberitahu kemana Ros pergi.

Sakti memang yakin ibunya tak pergi sambil membawa emas-emas itu, tapi selain itu, sejujurnya Sakti juga tak tahu kemana ibunya pergi. Ros berpesan agar Sakti mencarinya ketika ia siap. Tapi ia tak memberitahu kemana atau dimana Sakti bisa menemukannya. Itu pun tanpa jaminan untuk benar-benar bertemu, hanya jika Tuhan berbaik hati.

Pikiran Sakti melayang menembus rimba pepohonan yang mengelilingi Cimeri. Ada puluhan kilometer hutan dengan segala misteri yang dikandungnya terbentang membatasi kampung itu dengan dunia luar. Ros harus melewati itu semua sebelum sampai di perkampungan lain yang paling dekat. Sebaiknya Ros tak mengambil jalan yang biasa dilewati kendaraan atau jalan setapak yang suka diambil orang. Itu akan berbahaya baginya. Karena saat ini orang-orang suruhan Rukmana sedang mencarinya seperti kawanan anjing memburu babi hutan. Mereka menyusuri jalan utama dan bahkan semua jalan-jalan setapak yang mungkin dilewati oleh manusia.

Sakti membaringkan tubuhnya di atas papan-papan kayu yang kotor berlapis debu. Lututnya terlipat dan pahanya menempel di dada. Hembusan udara dingin mulai menyusup melewati celah-celah antara papan-papan kayu. Sakti tiba-tiba merasa rindu tidur dalam pelukan ibunya. Ada perasaan yang mengganggu dalam hatinya, sebuah kekosongan yang mulai ia sadari dengan jelas kehadirannya.

Sakti tak pernah suka melihat ibunya menjadi objek penindasan Rukmana, diperlakukan secara tidak adil dan sering dianiaya baik itu secara fisik maupun verbal. Dan Sakti selalu marah pada dirinya sendiri karena terlalu kecil dan tak bisa membela ibunya sendiri. Ia hanya bisa mengusap air mata ibunya tanpa benar-benar bisa menghilangkan sumber penderitaannya. Itulah kenapa ketika Ros memilih kabur, sakti tak tega untuk menghentikannya. Ia juga tak mau merengek minta diajak karena itu hanya akan menambah kesusahan ibunya saja. Setidaknya itulah pengorbanan yang bisa ia lakukan.

Namun kini setelah Ros benar-benar pergi Sakti mulai merasa kehilangan. Berjauhan dengan rahim ibu ternyata membuatnya begitu tak nyaman. Tak mendengar suara ibu ternyata lebih menyakitkan dari kesunyian apapun. Tak melihat wajah ibu ternyata begitu menyesakkan dada. Dan kenyataan bahwa ia tak bisa menemukan ibunya di kamar tidur, dapur, kamar mandi atau sungai, atau di mana pun adalah yang paling membuatnya patah hati. Ibunya tak akan muncul ketika dipanggil, meski ia memanggil-manggilnya sambil menangis, seperti saat ini. Ia terisak-isak menahan rindu, menahan dingin, menahan lapar. Ia terisak tanpa bisa Ros dengar, tanpa bisa Ros kembali. Ia terisak-isak dengan keras hingga pundaknya berguncang-guncang. Ia terisak hingga akhirnya terlelap tidur karena lelah.

Begitu mata Sakti kembali terbuka keesokan harinya, kekosongan itu masih terasa menggantung di dalam dada. Membuat udara yang dia hirup seakan menghilang entah kemana dan menimbulkan rasa sesak yang samar namun konstan.

Hingga hari beranjak sore masih tak ada tanda-tanda bahwa Rukmana akan mengeluarkan Sakti dari gudang yang ia kunci.

Sakti mengeluarkan selembar saputangan berwana putih bersih dengan sulaman indah di atasnya. Hanya itulah yang tersisa dari ibunya. Satu-satunya benda yang Ros tinggalkan untuknya. Setiap goresan benang ia pandangi lekat-lekat. Warnanya yang indah mengingatkan Sakti pada wajah ibunya yang cerah jika sedang tersenyum. Terbayang saat-saat yang mereka lalui bersama, ketika mereka memancing ikan di sungai, ketika Ros mengajari Sakti membuat layang-layang, dan ketika Sakti membawakan sepuluh tangkai mawar yang ia ambil dari pinggiran hutan pada saat Ros berulang tahun. Mata mungil Sakti mulai berkaca-kaca, tapi ia tak ingin menangis lagi. Ia tak punya waktu untuk itu. ia telah memutuskan.

“Tuhan, ini permintaanku yang pertama. Selamatkanlah ibu,” lirih, Sakti mengucap doa.

Sakti yang semula duduk bersandar pada pintu gudang kemudian bangkit. Ia mengambil sebuah linggis yang tergeletak di sudut ruangan, tertumpang tindih dengan sepatu but plastik, panci bolong, karung-karung dan benda-benda tak berguna lainnya.

Ia menghitung papan-papan kayu yang menjadi lantai tempat ia berpijak. Ia berhenti di papan ke lima dari dinding sebelah kiri, kemudian menancapkan linggis yang ia genggam ke dalam celah di antara papan itu. Dan tanpa perlu usaha keras, papan itu terangkat. Sakti kemudian melakukan hal yang sama pada papan-papan di samping kiri dan kanannya. Ia harus mengeluarkan tenaga sedikit lebih banyak karena kedua papan ini belum pernah dibuka sebelumnya. Sedangkan papan kelima dari dinding sebelah kiri pernah ia gunakan dulu sebagai jalan untuk memberikan makanan pada ibunya ketika Ros disekap oleh Rukmana.

Setelah ketiga papan itu terangkat kini ada bukaan yang cukup untuk dilewati tubuh Sakti. Sakti mengeluarkan kembali saputangan putih pemberian ibunya itu. Menciumnya sekali lagi lalu memastikan bahwa ia memasukkannya dengan rapi di saku belakang celananya. Sakti juga mengambil sebuah golok dan melingkarkan tali pengikatnya di pinggang. Ia telah siap.

Sakti lalu dengan hati-hati meloloskan tubuhnya melalui celah papan. Kakinya yang telanjang berhasil menyentuh tanah kolong rumahnya yang dipenuhi kotoran-kotoran bebek. Dengan langkah mengendap-endap dan punggung yang dibungkukkan Sakti berjalan ke arah belakang rumah, menuju sungai.

Begitu sampai, Ia meneguk air sungai itu dengan rakus. Bagaimana tidak, Rukmana sudah menyekapnya selama dua hari satu malam tanpa makan dan minum. Mungkin ia bisa mati jika tak memberanikan diri untuk melarikan diri di malam kedua ini.

Setelah rasa hausnya terpuaskan, Sakti mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ketika ia merasa yakin bahwa keadaan telah aman, Sakti langsung memacu langkahnya menyeberangi arus sungai yang sedang tak terlalu deras, kemudian berlari menghilangkan diri di balik rimbun pepohonan yang berdiri memagari sisi seberang sungai Cimeri.


“Tuhan, ini permintaanku yang kedua, selamatkanlah aku.”


Ditulis oleh: Yoga Palwaguna
sumber gambar: google

3 komentar:

  1. Sialan nih bikin pensaran ฅ(๑*▽*๑)ฅ!!

    BalasHapus
  2. Sekali update dua part kek. Penasaran

    BalasHapus
  3. Teknikn dan penguasaan bahasanya ok. temanya juga asyik terus diselami. Ini pasti embrio atau janin untuk sebuah novel ya?

    BalasHapus